Iqraman Tirana Firdaus


Biography of Iqraman Tirana Firdaus

Di sudut itu aku terjaga

mengheret langkah membasah wajah

tiada iringan tiada suara

ku lihat aku dibalik kaca

ku ambil bekas yang kesembilan

untuk diisi santapan

ditemani air tradisional indonesia

hadiah ibuku

mana sadar? mana resah?

bila kerinduan muncul di benak

aku terperangkap di tengah-tengah

di tengah kota mati

kota sepi

para suara lapisan menemani

keputihan ini kugomoli

hingga terpercik si merah hati

tenat yang kurasai

hingga mampu menodai

saranan si buta kepada si buta

aku dengari

kasihani terbit di hati

pecahan itu cuba ku rungkai

tetap ingkar menjadi teka-teki

atmosfera yang tipis

masih bergerak diatas orbitnya

hingga aku merindui “Bima Saktinya”

bidadari palsu tersenyum palsu di lorong ini

atas yakin ini jalanannya

ku tabur roti santapan merpati

teguh berputar si roda kota

kicauan burung terus memuji

memuji penciptanya

gemersiknya terus menghantui

tapi itu hanya mimpi

mimpi dari sang pemimpi

ini bukan rujiku

ini bukan isiku

ku tinggal ia jadi rapuh

di telan pusingan lawannya

agar di mengerti agar di fahami

moga tidak dikenangi

moga tidak di tangisi

aku sudah bersemadi

jauh di benak

hingga satu masa

tiada sisa

semoga abadi di lautan dingin

PoemHunter.com Updates

Damai

Seberapa dalam pusingan ini?
seberapa dalam terusan ini?
apakah manusia sudah buta?
apakah manusia mampu menjalin siraturahimi lagi?
kedamaian yang didamba, tangisan dingin yang ngilu
ternyata manusia sendiri menghapusnya untuk mencandu makar dunya
..anak muda hanya mengais waktu dan detik dengan ketelandaran yang nyata..
hingga waktunya telah tiba, semuanya hanya akan berhenti dan berteleku merebahkan wajah hingga ke lumpur
mengecewakan..

[Report Error]