Kau pernah berjanji, di sudut waktu,
Kata-katamu menyala, mengusir kelabu,
Dalam janji itu kutemukan harapan,
Semangatku bangkit, hidupku kembali berjalan.
Hari-hari kulalui dengan senyum,
Setiap langkah penuh harapan dan makna,
Bekerja, berlari, seakan tiada lelah,
Karena di ujungnya, ada janji yang kubawa.
Namun waktu bergulir, janji tak terjawab,
Semangat yang dulu bersinar terang,
Kini pudar perlahan, terseret gelap,
Kau diam, dan aku hilang arah.
Frustrasi merambat di relung jiwa,
Bagaimana bisa janji yang kita bangun,
Hanya menjadi debu yang tertiup angin,
Menyisakan luka, tak berbekas di hatimu.
Aku terjebak di tengah ruang hampa,
Mencari semangat yang dulu, yang hilang,
Tapi janji yang tak terpegang ini,
Membuatku jatuh, meragukan segala yang datang.
Tiap hari jadi beban,
Tiap detik menambah kecewa,
Janji yang tak kau tunaikan,
Membuat hidupku terasa sia-sia.
Namun meski hatiku kini patah,
Di sudut hati, ada harapan yang rapuh,
Mungkin suatu saat nanti, aku kan sembuh,
Dan kau akan datang, membangkitkan semangat yang luluh.
Meski kekecewaan masih mengikat,
Aku percaya, tak selamanya kelam,
Suatu hari, janji itu akan kau penuhi,
Dan semangatku akan kembali bersamamu, dalam tenang.
Aku berharap, di tengah kesendirian ini,
Semangat yang hilang kan kau temukan kembali,
Dan kita bersama, tanpa janji yang pudar,
Menghidupkan kembali mimpi yang pernah tersasar.
This poem has not been translated into any other language yet.
I would like to translate this poem