eter dari jalan ke Batuan, ada pematang pada tebing, dan
seseorang hingar menggusah burung,
seseorang turun ke kali dan menyanyi,
seseorang mencicipi alir,
mengikuti bunyi
kercap dingin
liang hutan,
arus yang menyisir batu
batu yang, seperti pundak kerbau, menahanmu
Pada pukul 7:15, jernih sungai menelanjangimu
II
Terkadang aku ingin
Kita hilang seperti kadal
di ilalang
seperti kilau—
III
Mungkin sudah tiba saatnya
kita membiarkan kata
terpesona pada luas lumut
atau pada jeram
dan parit
yang menciut
Mungkin sudah saatnya
kita terpesona
IV
Sementara di selatan
jerami telah dihimpun,
dan orang hingar
menggusah burung,
"Hai! Hai! Hai!"
sebaris bangau
membubuhkan putihnya
pada padi
V
Katakan, kenapa di tubuhmu yang sempurna
sungai seperti tak menyentuh
apa-apa?
VI
Misalkan terkait
teratai
pada air
misalkan terkait
air
pada hijau
misalkan terkait
kekal
pada daun
aku akan tetap takut
sengak maut
pada petang yang rembang
seperti dosa
VII
Detik adalah lugut
yang bertebar
di tengah oktober
dan hari gatal,
dan ajal turun,
pada jam yang menyulap kapas
ke dalam embun
VII
Saat kau sentuh putrimalu
kau lihat
tangkai waktu
IX
Yang sementara
tak akan menahan
bintang hilang
di bimasakti
Yang bergetar
akan terhapus
Yang bercinta
akan berhenti
Tapi aku teringat sebuah sajak
yang meminta: "Sandarkan sirahmu, kekasihku,
ke lenganku yang tak percaya"
X
Esoknya, ke dangau itu seseorang mengirim kartupos:
"Aku suka Malaka. Tembok orang Portugis,
jalan pada deru pagi,
gudang Cina dengan genting tua,
liku bandar, warna kapal, dan kedai-kedai."
Orang itu tak menyebutkan namanya.
XI
Barangkali memang ada sebuah kota
yang begitu jauh. Atau sebuah teluk
yang begitu jauh
Hmm . . .
Apa arti sebuah ujung?
XII
15 meter dari jalan ke Batuan, ada pematang
pada tebing. Terkadang aku ingin
kita jatuh, seperti rama-rama jatuh
dari dahan
sebelum mati yang pasti
...
Read full text