Thursday, October 25, 2018

PASTORAL Comments

Rating: 0.0

eter dari jalan ke Batuan, ada pematang pada tebing, dan
seseorang hingar menggusah burung,
seseorang turun ke kali dan menyanyi,
seseorang mencicipi alir,
mengikuti bunyi
kercap dingin
liang hutan,
arus yang menyisir batu
batu yang, seperti pundak kerbau, menahanmu

Pada pukul 7:15, jernih sungai menelanjangimu


II

Terkadang aku ingin
Kita hilang seperti kadal
di ilalang

seperti kilau—


III

Mungkin sudah tiba saatnya
kita membiarkan kata
terpesona pada luas lumut
atau pada jeram
dan parit
yang menciut

Mungkin sudah saatnya
kita terpesona


IV

Sementara di selatan
jerami telah dihimpun,
dan orang hingar
menggusah burung,

"Hai! Hai! Hai!"

sebaris bangau
membubuhkan putihnya
pada padi


V

Katakan, kenapa di tubuhmu yang sempurna
sungai seperti tak menyentuh
apa-apa?


VI

Misalkan terkait
teratai
pada air
misalkan terkait
air
pada hijau
misalkan terkait
kekal

pada daun
aku akan tetap takut
sengak maut
pada petang yang rembang

seperti dosa


VII

Detik adalah lugut
yang bertebar
di tengah oktober
dan hari gatal,
dan ajal turun,
pada jam yang menyulap kapas
ke dalam embun


VII

Saat kau sentuh putrimalu
kau lihat
tangkai waktu


IX

Yang sementara
tak akan menahan
bintang hilang
di bimasakti

Yang bergetar
akan terhapus

Yang bercinta
akan berhenti

Tapi aku teringat sebuah sajak
yang meminta: "Sandarkan sirahmu, kekasihku,
ke lenganku yang tak percaya"


X

Esoknya, ke dangau itu seseorang mengirim kartupos:
"Aku suka Malaka. Tembok orang Portugis,
jalan pada deru pagi,
gudang Cina dengan genting tua,
liku bandar, warna kapal, dan kedai-kedai."

Orang itu tak menyebutkan namanya.


XI

Barangkali memang ada sebuah kota
yang begitu jauh. Atau sebuah teluk
yang begitu jauh

Hmm . . .

Apa arti sebuah ujung?


XII

15 meter dari jalan ke Batuan, ada pematang
pada tebing. Terkadang aku ingin
kita jatuh, seperti rama-rama jatuh
dari dahan

sebelum mati yang pasti
...
Read full text

Goenawan Mohamad
COMMENTS
Close
Error Success