ketika parasmu menoleh ke belakang
lambaian tangan kembali aku simpulkan
karena punggungmu yang randa
telah kumiliki seutuhnya, kutempuhi
sembari kutulisi wirid-wirid ketulusan
yang telah kutafsir berulang-ulang
di atas punggungmu yang bungkam
telah lama aku jadi pahlawan
menumpas rindu, yang datang berulang-ulang