Sapardi Djoko Damono (born 20 March 1940 in Surakarta, Central Java) is an Indonesian poet known for lyrical poems, and who is widely regarded as the pioneer of lyrical poetry in Indonesia.
Sapardi attended grammar school at Sekolah Dasar Kasatriyan in his home town of Surakarta (also known as Solo), and from there he went on to junior high and high school at SMP 2 and SMA 2. He was an avid reader from an early age, and was a frequent visitor to the local libraries around Solo. His interests were broad, ranging from the works of Karl May, William Saroyan, and Pramoedya Ananta Toer, to comics by R.A. Kosasih. Eventually Sapardi, together with one of his younger siblings, began a lending library in their neighbourhood.
Sapardi began writing poetry while still in high school in Surakarta. After his graduation from high school, Sapardi moved to Yogyakarta to study at the English division of the Literature department at Gajah Mada University, and later completed his graduate studies in Indonesian literature. During this period he also became involved in radio broadcasting and the theater, as well as writing poetry. Sapardi's literary career developed alongside his academic career.
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan
kaulayarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan
perahumu bergoyang menuju lautan.
"Ia akan singgah di bandar-bandar besar," kata seorang lelaki
tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai
gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun
menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak
pernah lepas dari rindumu itu.
Akhirnya kaudengar juga pesan dari Si Tua itu, Nuh, katanya,
"Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir
besar dan kini terdampar di sebuah bukit."
...
untuk Danarto
/1/
Ia gemar membuat topeng. Dikupasnya
wajahnya sendiri satu demi satu
dan digantungkannya di dinding. "Aku
ingin memainkannya," kata seorang sutradara.
Malam hari, ketika lakon dimainkan,
ia mencari wajahnya sendiri di antara topeng-
topeng yang mendesah, yang berteriak,
yang mengaduh: tapi tak ada. Ternyata ia masih
harus mengupas wajahnya sendiri satu demi satu.
/2/
"Di mana topengku?" tanyanya, entah kepada
siapa. Dalam kamar rias: cermin retak, pemerah
pipi, dan bedak berceceran di mana-mana;
dan tak ada topeng. "Di mana
topengku?" tanyanya. Tegangan listrik yang rendah,
sarang laba-laba di langit-langit,
dan obat penenang di telapak tangan. Tak ada
topeng itu. Mungkin maksud sutradara: Sang Tiran
harus menciptakan topeng dari wajahnya sendiri.
/3/
Tapi topeng tak boleh menjelma manusia;
ia, tentu saja, hafal sabda raja
dan sekarat hulubalang. Ia kenal benar sorot mata
dan debar jantung penonton. Ia, ya Allah,
tak pernah tercantum dalam buku acara,
tak menerima upah, dan digantung saja di dinding
jika lakon usai. Tinggal berdua di belakang panggung
yang ditinggalkan, sutradara tak juga menegurnya.
Ia tak berhak menjadi manusia.
...
/1/
kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka -
jika suatu hari nanti mereka mencapaimu,
rahasiakan, sia-sia saja memahamiku
/2/
ruangan yang ada dalam sepatah kata
ternyata mirip rumah kita:
ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana -
hanya saja kita diharamkan menafsirkannya
/3/
bagi yang masih percaya pada kata:
diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya -
tapi kapan kita pernah memahami laut?
memahami api yang tak hendak surut?
/4/
apakah yang kita dapatkan di luar kata:
taman bunga? ruang angkasa?
di taman, begitu banyak yang tak tersampaikan
di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan
/5/
apa lagi yang bisa ditahan? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan -
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan?
/6/
dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
hurung yang hilang -
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang
...
Bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit yang sedikit
berawan, yang menabur-naburkan angin di sela bulu-bulunya;
bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
bukan wajahmu tetapi awan yang menyaksikan burung itu
menukik ke atas kota kita dan mengibas-ibaskan asap pabrik dari
bulu-bulunya;
bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
bukan wajahmu tetapi pohon rambutan di halaman rumahmu
yang menggoda burung itu untuk hinggap di lengannya;
bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
wajahmu sendiri yang itu juga, yang tak kunjung habis meski
telah kaukupas dengan ganas selembar demi selembar setiap hari.
...
Imagine if what you see in the mirror this morning
is not your face but the bird that flies in the cloud-spattered
sky, scattering the wind through its feathers;
imagine if what you see in the mirror this morning
is not your face but the cloud that watches the bird as it
plunges into our city and flaps the factory smoke from its
feathers;
imagine if what you see in the mirror this morning
is not your face but the rambutan tree in your courtyard
that lures the bird to perch on its shoulders;
imagine if what you see in the mirror this morning
is your own old face that remains unchanged even though
you keep on peeling it fiercely layer by layer each and every day.
...