Imagine if what you see in the mirror this morning
is not your face but the bird that flies in the cloud-spattered
sky, scattering the wind through its feathers;
...
aku terjaga di kursi ketika cahaya bulan jatuh di wajahku dari genting kaca
adakah hujan sudah reda sejak lama?
masih terbuka koran yang tadi belum selesai kubaca
terjatuh di lantai; di tengah malam itu ia nampak begitu dingin dan fana
...
Sebuah bola lampu menyala tergantung dalam kamar. Lelaki
itu menyusun jari-jarinya dan bayang-bayangnya
tampak bergerak di dinding; "Itu kijang," katanya.
"Hore!" teriak anak-anaknya, "sekarang harimau!"
"Itu harimau." Hore! "Itu gajah, itu babi hutan, itu kera . . ."
Sebuah bola lampu ingin memejamkan dirinya. Ia merasa
berada di tengah hutan. Ia bising mendengar hingar-
bingar kawanan binatang buas itu. Ia tiba-tiba merasa
asing dan tak diperhatikan.
...
ada yang sedang menanggalkan pakaianmu satu demi satu,
mendudukkanmu di depan cermin, dan membuatmu
bertanya, "tubuh siapakah gerangan yang kukenakan ini?"
ada yang sedang diam-diam menulis riwayat hidupmu, menimbang-
nimbang hari lahirmu, mereka-reka sebab-sebab
kematianmu -
ada yang sedang diam-diam berubah menjadi dirimu
...
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan
kaulayarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan
perahumu bergoyang menuju lautan.
"Ia akan singgah di bandar-bandar besar," kata seorang lelaki
tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai
gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun
menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak
pernah lepas dari rindumu itu.
Akhirnya kaudengar juga pesan dari Si Tua itu, Nuh, katanya,
"Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir
besar dan kini terdampar di sebuah bukit."
...
untuk Danarto
/1/
Ia gemar membuat topeng. Dikupasnya
wajahnya sendiri satu demi satu
dan digantungkannya di dinding. "Aku
ingin memainkannya," kata seorang sutradara.
Malam hari, ketika lakon dimainkan,
ia mencari wajahnya sendiri di antara topeng-
topeng yang mendesah, yang berteriak,
yang mengaduh: tapi tak ada. Ternyata ia masih
harus mengupas wajahnya sendiri satu demi satu.
/2/
"Di mana topengku?" tanyanya, entah kepada
siapa. Dalam kamar rias: cermin retak, pemerah
pipi, dan bedak berceceran di mana-mana;
dan tak ada topeng. "Di mana
topengku?" tanyanya. Tegangan listrik yang rendah,
sarang laba-laba di langit-langit,
dan obat penenang di telapak tangan. Tak ada
topeng itu. Mungkin maksud sutradara: Sang Tiran
harus menciptakan topeng dari wajahnya sendiri.
/3/
Tapi topeng tak boleh menjelma manusia;
ia, tentu saja, hafal sabda raja
dan sekarat hulubalang. Ia kenal benar sorot mata
dan debar jantung penonton. Ia, ya Allah,
tak pernah tercantum dalam buku acara,
tak menerima upah, dan digantung saja di dinding
jika lakon usai. Tinggal berdua di belakang panggung
yang ditinggalkan, sutradara tak juga menegurnya.
Ia tak berhak menjadi manusia.
...
/1/
kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka -
jika suatu hari nanti mereka mencapaimu,
rahasiakan, sia-sia saja memahamiku
/2/
ruangan yang ada dalam sepatah kata
ternyata mirip rumah kita:
ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana -
hanya saja kita diharamkan menafsirkannya
/3/
bagi yang masih percaya pada kata:
diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya -
tapi kapan kita pernah memahami laut?
memahami api yang tak hendak surut?
/4/
apakah yang kita dapatkan di luar kata:
taman bunga? ruang angkasa?
di taman, begitu banyak yang tak tersampaikan
di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan
/5/
apa lagi yang bisa ditahan? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan -
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan?
/6/
dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
hurung yang hilang -
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang
...
Bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit yang sedikit
berawan, yang menabur-naburkan angin di sela bulu-bulunya;
bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
bukan wajahmu tetapi awan yang menyaksikan burung itu
menukik ke atas kota kita dan mengibas-ibaskan asap pabrik dari
bulu-bulunya;
bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
bukan wajahmu tetapi pohon rambutan di halaman rumahmu
yang menggoda burung itu untuk hinggap di lengannya;
bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
wajahmu sendiri yang itu juga, yang tak kunjung habis meski
telah kaukupas dengan ganas selembar demi selembar setiap hari.
...
Imagine if what you see in the mirror this morning
is not your face but the bird that flies in the cloud-spattered
sky, scattering the wind through its feathers;
imagine if what you see in the mirror this morning
is not your face but the cloud that watches the bird as it
plunges into our city and flaps the factory smoke from its
feathers;
imagine if what you see in the mirror this morning
is not your face but the rambutan tree in your courtyard
that lures the bird to perch on its shoulders;
imagine if what you see in the mirror this morning
is your own old face that remains unchanged even though
you keep on peeling it fiercely layer by layer each and every day.
...