Aku Ingin Kembali Ke Masa Lalu

sekarat,

Waktu, , , , , ,
demi waktu yang merenggut umurku, huruf demi huruf, bait demi bait,
dan demi malam yang dingin berubah jubah,
diantara lampu-lampu neon yang merampas keheningan itu,
maka kemana lagi akan kau tambatkan sepi ini Duh istriku,
jika aku tidak lagi seperti yang dulu dimana cinta memuja kita,
yaitu saat air melumuri seluruh tubuh ini tanpa kepentingan, tanpa selimut yang menutup ketelanjangan hati kita, hingga hatiku dan hatimu tertidur bersama ilalang yang tumbuh dibawah bayang-bayang itu, sampai sore mesra menjemput umurmu,
Ahh, , bagaimana kau akan mengenangnya Duh istriku? ? ?
Dan Kembali,
Aku ingin kembali dimana wadal ini pernah digambar luka sejarah desa,


Bersama ribuan kotoran yang tercecer dalam setiap jengkal tanah,
hingga kehidupan berjalan apa adanya,
tidak ada sekat yang menutup persetubuhan hati ini,
selain ketulusan dan ketulusan dan ketulusan untuk hidup bersama,
untuk hidup sebagaimana awalnya kehidupan ini telah menghidupkan kita,
Aku ingin kembali hidup apa adanya, apa adanya, laiknya syair yang aku tulis dari cintaku pada siapa saja, , , ,
Bagaimana kau akan mengenangnya Duh istriku,
Jika langit sudah terbungkus bau anyir darah,
Bumi tergeletak dikotak sampah, ,
Agama, kapitalisme, sosialisme, modernisme, dan lain-lain penyakit itu telah
Mewujud sebagai kreasi penghancur keadilan, kemanusiaan, pun ketulusan itu? ?
Ah, , Bagaimana kau akan mengenangnya…
Jika raut muka ini layaknya sesaji, bau menyan yang menghadirkan mimpi-mimpi, sementara orang-orang

terpaku dalam kebodohannya, hingga kejujuran tinggallah harapan kosong, kemanusiaan tertambat di ujung langit, kelaparran menjadi anekdot perwakilan rakyat dan ketuhanan sekedar basa-basi kebijaksanaan.
Lihatlah anak-anakmu istriku, , ,
hutan menangis dalam galau kemanusiaan, naluri tinggal disepertiga malam yang terkutuk, air mata tercecer disudut-sudut kota, sementara diatas sana hujan kata menindih kepala, orang-orang terbangun menjadi mayit karena desa tidak lain hanyalah selilit, selilit, selilit, dan selilit........
bencana tidak ubahnya kebudayaan negeri para pendosa, yang dibingkai dalam kardus-kardus dongeng dan carut marut kepentingan........istriku, , ,
dengan apa kau akan mengenang sejarah ini,
jika kertas dan tinta saja kau tidak akan mampu membeli? ?

Ohh....Duh Gusti, Sang Hyang Manon, , punjering bumi.......
aku sekedar bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, bertanya, bertanya dan bertanya......
Tirta rahayu bumi ing ati, bumi yang tertindas dalam makam kebiadaban dan kutukan yang terkutuk...

READ THIS POEM IN OTHER LANGUAGES
COMMENTS OF THE POEM
Khoirun Niam 21 February 2009

good work lad, fight

0 0 Reply

Phenomenal Woman