Duka Cita Poem by Sari Mavi

Duka Cita

Belum lama Whatsapp ku penuh dengan notifikasi
postingan Tenaga Kesehatan yang gugur bersama
calon bayi yang dikandungnya, berusia 4 bulan.

Aku tertegun, tercekat, pilu menyeruak,
airmata ini mengalir begitu saja, tak tertahankan
Meski aku tidak kenal siapa Almarhumah.

Kegeraman memenuhi dada, tumpah ruah menjadi serapah
Ke siapa saja yang selalu ingin melanggar protokol
kesehatan,
Ke siapa saja yang selalu bersikap meremehkan.

Sungguh keegoisan yang sempurna.
Kalian, orang-orang tak punya hati!

Demi memburu kesenangan belaka
Tak segan meniadakan hak hidup calon ibu beserta janinnya.

Tertulis permohonan: "Tolong jaga diri, jaga kebersihan,
pakai masker, hindari kerumunan.. Kasian kalau sampai
ada tenaga kesehatan gugur seperti ini."

Bukankah sudah ribuan kali kalimat itu aku dan kalian
dengar, bahkan menjadikannya bahan obrolan.

Sudah tertayangkan di media berapa banyak garda depan
kesehatan yang gugur demi kemanusiaan.

Bukankah aku dan kalian telah melihat betapa tragisnya
kematian yang ada.

Atau hati kalian terbuat dari batu? Atau kalian anggap
kehidupan ini tak berharga sama sekali! ? ?

Tak menyurutkan niat kalian tetap ingin melakukan
pelanggaran,
Menyebarkan virus sebagai kejahatan kemanusiaan
di tengah situasi wabah yang mengerikan.

Wahai kalian orang-orang bodoh dan yang pintar,
jangan hanya mengandalkan otakmu,
Pergunakan hatimu karena hati itu menyimpan kecerdasan
dan kearifan terdalam

Haruskah kami terus memohon kepada
kalian untuk sebuah kepedulian! ?

Haruskah aku bertanya, apakah kalian harus mengalami
sendiri untuk dapat merasakan sensasi kehilangan
orang yang kalian sayangi? !

Berbahagialah Saudari ku dan janinmu, kalian gugur
sebagai syuhada.

Ya Allah, betapa indahnya kematian mereka
Ribuan malaikat menyambut kalian berdua menghantar
menuju ke surga-Nya.

Sungguh, Allah Maha Tahu atas semua peristiwa.
Dan aku memohon ampunan dan perlindungan hanya
pada-Nya.

Monday, May 18, 2020
Topic(s) of this poem: death
POET'S NOTES ABOUT THE POEM
Saya dedikasikan untuk keluarga Almh. Ari Puspita Sari dalam dedikasinya sebagai Perawat RS. Royal Surabaya yang meninggal dunia beserta janin di kandungannya. Anak pertama dari keluarga kecil mereka menghadap ke hadirat-Nya pada tanggal & hari yang sama,18 Mei 2020.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun
COMMENTS OF THE POEM
READ THIS POEM IN OTHER LANGUAGES
Close
Error Success