Pernah aku menyebut namanya dalam setiap doa,
memohon kepada Tuhan, ya Tuhan, semoga dia yang
terbaik untukku. Tak lelah aku berharap dan berdoa,
semoga diberi kelancaran oleh-Nya. Aamiin.
Lalu Tuhan menjawab doaku dengan tanda-tanda.
Aku yang mulai letih dengan keadaan yang ada, aku
sempat menolak dan mengingkari semua pertanda.
'Tidak mungkin, Tuhan, Mengapa ini harus terjadi setelah
sekian lama aku menjaga hati untuknya? '
Jelas aku tidak bisa menerima jawaban doa, namun aku,
perlahan, sudah tak lagi menyebut namanya dalam setiap
doa. Tuhanku dengan penuh kasih menunjukkan dan
memintaku merenungkan keinginanku bersama dia.
Aku pun mulai merenungi apa yang menjadi kehendak-Nya?
Yang ku tahu, Tuhan sayang padaku, Dia ingin memberiku
hikmah kehidupan melalui dirimu. Aku harus ikhlaskan
semua ini terjadi.
Seakan Tuhan berkata padaku, 'Anakku, dia bukan jodohmu.
Dia bukan terbaik untukmu. Bersabarlah atas semua
keinginanmu. Akan tiba saatnya kebahagiaan menyapamu.'
Terimakasih Tuhan, ku percaya pada-Mu.
Jadi aku tuh pernah bermimpi dan berdoa tentang kita
- ada satu masa diam yang panjang - ternyata, kamu,
bukan jawabannya.
This poem has not been translated into any other language yet.
I would like to translate this poem