Duhai diriku
Tak ada waktu yang tepat kapan harus memulai perbaiki diri,
Kemarin - Tak kan pernah kembali,
Hari ini - Tak ada yang menjamin aku masih melihat indahnya dunia.
Hari demi hari, semenjak kemudaan menandaiku, aku selalu memendam keinginan: memperbaiki kesalahan mengharapkan ampunan, hingga
usia menjelang menua, sedangkan aku masih tertahan di dunia, tapi
aku selalu menunda sampai habis usia tak ada lagi yang bisa aku tunaikan.
Ketika jiwa sudah dicabut dari raga, yang tersisa hanya penyesalan.
Meratap sendirian, terbungkus kafan, di antara gelap dan dinginnya
tanah kuburan yang menghimpit gerak dan menelan jerit ketakutan..
This poem has not been translated into any other language yet.
I would like to translate this poem
Meratap sendirian, terbungkus kafan, di antara gelap dan dinginnya...This poem is very brilliantly penned. An amazing sharing is done really!